AZROHAL HASAN

HISTORY NEVER DIES

Humanisme Muhammadiyah dalam Pemberdayaan Sosial

21 December 2015 - dalam Umum Oleh azro_el-fib11

Humanisme Muhammadiyah dalam Pemberdayaan Sosial

Oleh : Azrohal Hasan

 

  1. Pengaruh Pemikir Islam terhadap Humanisme Barat

Pada masa Renaisans muncul aliran yang menetapkan kebenaran berpusat pada manusia, yang kemudian disebut dengan humanisme. aliran ini lahir disebabkan kekuasaan gereja yang telah menafikan berbagai penemuan manusia, bahkan dengan dogma dan kekuasaannya, gereja telah meredam para filosof dan ilmuwan yang dipandang dengan penemuan ilmiahnya telah mengingkari kitab suci yang selama ini diacu oleh kaum kristiani.

Kerja dari Humanisme adalah mencoba menanusiakan manusia (humanisasi) sebagai manusia, yang selama ini manusia tidak lebih dipahami sebagai seonggok ‘objek’ atau benda tanpa mempunyai kekuatan dan kemampuan apa-apa melalui relitas. Dalam kamus filsafat, Lorens Bagus, berpendapat bahwa Humanisme di Barat merupakan sebuah filsafat yang memandang individu rasional sebagai nilai tertinggi, menilai individu sebagai sumber nilai tertinggi dan ditujukan untuk membina perkembangan kreatif dan moral individu dengan cara yang bermakna dan rasional tanpa menunjukkan pada konsep-konsep adikodrati. Dalam hal ini menunjukkan bahwa kemampuan sebagai individu yang rasional dan digunakan untuk memahami realitas.

Konsep pemikiran filsafat psikologi humanistik yang dikemukakan oleh filsuf humanis meliputi pandangan tentang hakeket manusia, pandangan tentang kebebasan dan otonomi manusia, konsep diri (self concept), dan diri individu serta aktualisasi diri (Hanurawan,2006). Konsep pemikiran tersebut akan diuraikan sebagai berikut[1]:

Dalam prespektif Barat pemikiran-pemikiran tersebut menggiring pandangan masyarakat dunia bahwa munculnya pemikiran Humanisme Barat dan pemikiran yang lain, masih dipercaya oleh orang Barat akibat peranan agama Kristen dan orang-orang didalamnya. Orang-orang Barat masih mengatakan bahwa dasar-dasar hak-hak manusia yang dijelmakan secara sistematis dalam Magna Charta Inggris pada abad 13, dan konstitusi Amerika Serikat serta Deklarasi Hak Manusia dan warga negara Prancis pada akhir abad ke 18, adlah berasal dari dunia Barat yang beragama Kristen. Ketidak tahuan banyak penulis tentang hasil yang diperoleh dari pemikiran Yunani, Yahudi dan Kristen telah menyebabkan penulis tergesa-gesa menyimpulkan bahwa penghormatan kepada pribadi manusia (Humanisme) adalah hasil cipta daya pikir Barat. Terdapat banyak kesalahan dalam mempersoalkan berbagai masalah tersebut. jika sejarah memang telah mencatat bahwa manifestasi pertama daripada hak-hak manusia atau peraturan tentang kemanusian dalam peperangan atas dasar Hukum alamiyah atau prinsip-prinsip filsafat telah terjadi di Eropa[2].

Dalam berbagai buku sejarah Barat yang ditulis, di mana sejarah Barat Kristen menyebutkan secara khusus zaman Yunani, untuk meloncat langsung ke zaman modern, dengan menganggap bahwa kekaburan peristiwa pada abad pertengahan adalah keadaan umum di seluruh dunia. Ada pula tulisan yang menganggap benar bahwa fikiran Yunani (Hellenisme) dan Yahudi adalah sumber-sumber pokok yang mengisi kebudayaan Barat.

Peradaban islam tidak mengingkari berbagai pengaruh yang riil dari filsafat Yunani atau agama Yahudi[3], apalagi agama Kristen, akan tetapi obyektifitas sejarah dan keadilan mengigatkan bahwa peradaban yang menjadi dasar kebudayaan Lautan tengah (Mediterannee) selama Tujuh abad pada masa zaman pertengahan adalah peradaban Islam.

Kebenaran ini mulai diakui berbagai Sejarahwaan walaupun begitu ketika adanya uraian-uraian tentang dunia Internasional sumbangan Islam jarang disebutkan, bukankah tokoh-tokoh islam yang mengumpulkan kembali dan memberi komentar terhadap berabagai karangan zaman kuno dan memberi kesan tentang keunggulan pemikirannya, sebelum menyerahkannya kepada Barat yang beragama Kristen? .

Sesungguhnya Sejarahlah yang memberika bahan untuk memahami dan menganalisa hak bangsa-bangsa. Sejarah mengisikan fakta-fakta kongkrit dan manifestasi-manifestasi riil dari pemikiran politik filsafat dalam sistem normatif yang sempurna[4]. Seorang ahli sejarah harus mampu mengetahui halaman-halaman pokok dari pada kebudayaan yang berdasarkan agama dan yang telah memberikan cirinya kepada evolusi kemanusiaan dan tetap sampai sekarang memberikan petunjuk moral dan politik kepada berjuta-juta manusia. Oleh karena itu kita perlu menganalisa ide-ide pokok evolusi manusia pada saat ini.

Ibnu Rusyd yang mempunyai nama latin Aveorus dan Ibnu Sina yang mempunyai nama Latin Avicena. Ibnu Rusyd merupakan tokoh yang berpengaruh besar terhadap kemunculan konsep Humanisme di Barat. Dimulai dari merekonsiliasikan antara agama (wahyu) dan filsafat (akal) atau secara riilnya mempertemukan Aristoteles dengan Muhammad. Menurut Ibnu Rusyd antara filsafat dan agama tidak bertentangan karena kebenaran tidaklah berlawanan dengan kebenaran tetapi saling memperkuat, dengan kata lain, filsafat adalah saudara kembar agama, antara keduanya bagaikan sahabat yang pada hakikatnya saling mencintai[5].

Dengan pandangan filosofif tersebut Ibnu Rusyd kelihatannya sangat menekankan kebebasan berpikir dan superioritas akal. Pemikiran yang mencerminkan ekspresi dari revolusi akal dalam dunia filsafat menjadikan pemikiran filosofisnya berkembang luas di Eropa.

Menurut Ibrahim Madkur ada beberapa alasan yang menimbulkan perhatian Barat terhadap pemikiran Ibnu Rusyd, yang pertama Frederick II sebagai pencinta ilmu pengetahuan dan filsafat banyak tertarik terhadap komentar-komentar Ibnu Rusyd terhadap Aristoteles. Komentar tersebut diterjemahkan, kemudian tersebar luas di Eropa, kemudian Orang-orang Yahudi, penganut Filsafat Ibnu Rusyd, berusaha menerjemahkan karyanya dalam bahasa Ibrani dan Latin. Kemudian,mereka bertindak sebagai perantara filsafat Ibnu Rusyd dan filsafat barat (kristen). Dan alasan terakhir sebagian pengkaji filsafat memandang bahwa untuk memahami filsafat aristoteles, sebaiknya membaca karya Ibnu Rusyd, oleh karena itu, menerjemahkan kembali karya-karya Ibnu Rusyd pada abad ke 16 ditujukan untuk lebih memahami Aristoteles daripada Ibnu Rusyd sendiri[6].

  1. Humanisme Muhammadiyah sebagai Pandangan dalam Upaya Pemberdayaan Sosial.

Terdapat sebuah Gambaran yang dimiliki oleh sebuah kelompok masyarakat yang teratur tentang manusia, hakekat yang sesungguhnya, kedudukannya serta mempunyai peranan dalam kelompok, semua itu akan menetapkan nilai-nilai apresiasi terhadap manusia itu dalam kelompoknya.

Ada tiga macam pendekatan ketika mempelajari manusia dalam dua keadaan, yakni dalam keadaan tetap dan berubah. Pendekatan pertama orang dapat menyelidiki manusia dalam hakikatnya murni dan esensial, kedua penyelidikan dengan mencurahkan segala perhatiannya kepada prinsip-prinsip ideologis dan spiritual yang mengatur tindakan manusia dan yang mempengaruhi bentuk personalitasnya, dan yang terakhir dengan mengambil konsep tentang manusia penyelidikan-penyelidikan tentang lembaga etika dan yuridis yang terbentuk dari pengalaman-pengalaman sejarah dan kemasyarakatan, dan yang dihormati oleh lembaga tersebut telah dapat melindungan perorangan dan masyarakat dengan menerangkan hak-hak dan kewajiban timbal balik antar manusia[7]. Pendekatan yang terakhir lebih ditekankan kepada penyelidikan manusia dipelajari dari segi individual, kemudian dari segi kolektif, bukan dalam arti berlakunya hubungan perorangan akan tetapi organisasi masyarakat.

Dengan pendekatan di atas untuk menguraikan bagaimana konsep Humanisme dalam Muhammadiyah, dimana Muhammadiyah merupakan organisasi Masyarakat Islam yang mempunyai hubungan erat dengan anggotanya, hubungan timbal balik juga terjadi ketika ada sebagaian anggota Muhammadiyah yang secara ekonomi lemah, sehingga organisasi Muhammadiyah berperan aktif dalam usaha pendampingan untuk mensejahterakan anggota Muhammadiyah, selain anggota Sendiri Muhammadiyah juga berperan aktif dalam membantu berbagai golongan masyarakat yang membutuhkan.

Muhammadiyah bermula dari adanya pergolakan dalam hati K.H Ahmad dahlan ketika sepulang dari tanah Suci tahun 1889. yang mencermati bagaimana kehidupan masyarakat muslim Yogyakarta mempunyai budaya Jawa kraton dan santri tradisional yang penuh dengan “Pakem” tradisional yang konservatif.[8] Apa yang diperoleh dari berguru kepada pemikir-pemikir pembaharu islam seperti Ibn Taimiyah, Muhammad Abdu, Jamaluddin Al Afghani, dan Rasyid Ridha. Orang-orang inilah yang menjadi pelopor masa Renaisans (pencerahan) Islam. Pemikiran yang muncul dari golongan pembaharu ini mampu merubah pemikiran kolot masyarakat islam di Timur Tengah.

Keadaan Islam di Timur Tengah yang tidak mampu menerima perubahan-perubahan yang ada di Dunia yang saat itu peradapan Barat menjadi pusat Peradapan dunia dan memiliki berbagai kajian-kajian ilmu dunia yang sudah jauh meninggalkan peradapan Islam yang kurang memperhatikan terhadap kajian-kajian ilmu dunia. Keadaan yang terjadi ketika itu membuat para pemikir Islam mencoba memberikan pemahaman baru terhadap agama Islam, Umat Islam harus mampu menerima pembaharuan dan perkembangan ilmu pengetahuan tanpa merubah pemahaman dan kemurnian agama islam itu sendiri.

Menurut Kuntowijoyo, gagasan pendidikan yang dipelopori oleh Kyai Dahlan merupakan pembaharuan karena mampu mengintegrasikan aspek “iman” dan “kemajuan”, sehingga menghasilkan sosok generasi muslim terpelajar yang mampu hidup di zaman modern tanpa terpecah belah. Lembaga pendidikan Islam modern bahkan menjadi ciri utama pembaharuan K.H Ahmad Dahlan yang membedakan dari lembaga pondok pesantren. Niai-nilai Humanisme yang ditanamkan kepada murid-murid K.H Ahmad dahlan membuat pola pikir muridnya mampu memunculkan berbagai pemikiran baru, tidak hanya lembaga pendidikan modern yang mengadopsi dari konsep pendidikan kolonial Belanda. Adanya lembaga pendidikan Islam tersebut mendapat berbagai gugatan dari berbagai aliran Islam Tradisional saat itu, jika lembaga pendidikan Belanda yang non muslim tidak sesuai dengan agama Islam jika diterapkan dalam pendidikan Islam ditakutkan banyak merubah nilai-nilai agama.

Gagasan dan pelajaran tentang surat Al Maun, merupakan contoh lain yang paling monumental dari pemikiran Syuja’ untuk mewujudkan PKU ( penolong kesejahteraan umum) dengan mengamalkan jiwa humanis yang sebelumnya telah banyak dilakukan oleh kaum Kristen yang telah mempunyai panti asuhan dan rumah miskin. Dalam pandangan islam yang bersifat Transformatif inti ajaran Islam yang tidak hanya mengandung seperangkat ritual-ibadah dan “hablu min Allah” (hubungan dengan Allah) semata, tetapi justru peduli dan terlibat dalam memecahkan masalah-masalah kongkret yang dihadapi manusia. Seperti Azas PKU yang pertama berikut :

“Pertolongan Muhammadiyah b/g PKU itu, bukan sekali-kali sebagai satu jaring kepada manusia umumnya, supaya dapat menarik hati akan masuk kepada agama Islam atau perserikatan Muhammadiyah, itu tidak, akan tetapi segala pertolongannya itu semata-mata karena memenuhi kewajiban atas agamanya Islam terhadap segala bangsa, tidak memandang agama, tidak mengandung maksud untuk membela sesuatu kepentingan diri dan bangsanya, supaya tetap dalam kemenangan di atas fihak bangsa yang tertolong. Atau tidak pula bermaksud, supaya sisengsara itu tinggal tetap dalam pertolongannya, akan tetapi bermaksud segala bahaya kesengsaraan dan kehinaan terhindar dari pada masing-masing diri dan bangsanya”.[9]

Dari sini dapat ditafsirkan bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan, ketika akan menolong masyarakat yang sedang membutuhkan, tidak melihat kanan dan kiri bagaimana usaha orang atau kelompok lain dalam melakukan pertolongan dan mendapatperhatian dari masyarakat yang ditolong, tapi murni untuk mengingat dan melaksanakan perintah Nabi Muhammad SAW. PKU dalam usaha pertolongannya dapat di analogikan Muhammadiyah itu sebagai sumber mata air yang jernih dan bersih yang terletak disebuah tempat yang didatangi orang-orang yang tidak memandang latar belakang agama dan bangsa, barang siapa yang mau mengambil air itu diperbolehkan selama tidak bermaksud merusak maupun menutup mata air tersebut.

Konsep Humanisme islam yang kental diterapkan dalam Muhammadiyah, selain peran-peran untuk mensejahterahkan Umat, kader-kader Muhammadiyah dituntut kritis untuk mampu menghadapi perkembangan zaman. Peningkatan kemampuan intelektual Muhammadiyah banyak diwadahi oleh berbagai bidang di Muhammadiyah untuk terus mengkaji berbagai macam disiplin ilmu. Pendidikan yang telah memenuhi semua jenjang yang ada diharapkan menggiring pemikir-pemikir Muhammadiyah untuk lebih fleksibel terhadap perubahan yang ada.

Dalam Muhammadiyah tidak tertutup dalam menerima berbagai kajian pemikiran Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang mengusung jiwa Islam pembaharu mampu mengadopsi berbagai kajian pemikiran tidak hanya berasal dari pemikir Islam, namun juga menerima berbagai pemikiran dan kemajuan teknologi Barat untuk diterapkan di berbagai bidang dan amal usaha di Muhammadiyah.

[1] Ali Syariati. “Humanisme Antara Islam dan Mazhab Barat”. terj Afif Muhammad. Bandung: Pusataka Hidayah, 1996. hlm.24.

[2] Marcela A Boisard, Humanisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1980. hlm, 17.

[3] Islam sebagai wahyu Illahi, “suigeneri” (unik, tanpa melihat pengaruh agama Yahudi atau Nasrani yang mungkin ada).

[4] Marcela A Boisard, Op. Cit., hlm 21

[5] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam (Filosof & Filsafatnya), Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007hlm. 246-249.

[6] Ibit., hlm. 255.

[7] Marcela A Boisard, Op, Cit., hlm 92.

[8] Haedar Nashir, Muhammadiyah Gerakan Pembaharu, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2010.

[9] Alamanak Muhammadiyah, Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1354 H, .hlm 120.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Sejarah yang Tak Terulang

    Masa Lalu gak akan muncul kembali namun kita setidaknya mampu belajar dari peristiwa masa lalu

IDEALISME SEMU

    Bicara tentang Idealisme, mungkin kata ini tak asing ditelinga Mahasiswa, apalagi Mahasiswa Aktivis yang menjunjung tinggi kata ini, berat rasanya buat siapapun Politikus, Negarawan, Agamawan,Sejarahwan dll, Bahkan Agamawan yang menjadi benteng keimanan, gejolak batin sontak timbul ketika kata itu tergadaikan materi-materi yang menggoda, Marx pun lebih jujur ketika menanggapi soal materi, Apa mungkin kejujuran Marx telah jadi realitas ditengah gempuran sistem yang semakin mencekik, Ah, Mungkin Kata itu hanya teks terbangkai yang selamanya akan menjadi Mitos para Pecandu Jabatan & Materi.

ASAP PEMBUNUH

    Berharap hujan datang dan memberi secercah harapan. Hujan dengarlah rintihan dan pekikan bayi, anak-anak, ibu, bapak, nenek dan kakek. Tak mampu berujar untuk menikmati nafas yang sebelumnya mereka hirup. Mata tak dapat melihat seperti yang sebelumnya mereka lihat. Hidup dalam miniatur neraka. Menyiksa, merusak tatanan kehidupan. Sudah lelah mereka merontah saling tuding tak ada jawaban datang dari bapak berkopiah, ber jas dan berdasi mewah. Seolah keadilan hanya sebuah fatamorgana bagi mereka. Di Hari Sumpah Pemuda ini para Motor Bangsa harus bertindak, tak hanya melihat, berujar dan saling menyudutkan. Semoga bangsa ini mampu bertahan dalam buaian pengkhianatan. Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015 #SaveRiau #SaveBorneo #SaveSumatra #SaveSingapore #SaveMalaysia

Pengunjung

    20.763